Jumat, 05 Juli 2019

Pertanyaan Kesepuluh

Aneh rasanya. Segalanya itu harus pakai hati, termasuk nulis. Mungkin ini akan menjadi chapter paling random karena, jujur ya, aku udah ga dapet feelnya sih untuk nulis. Semuanya tentu tidak akan kulupakan. Hanya saja, hampa. Aku pulih?

Awal 2019, tahun terberat dimana aku bukanlah diriku. Tatapan kosong, air mata jatuh tanpa sebab, tawa orang-orang disekitarku tidak terdengar, tidak tidur, tidak makan, merasa sangat bersalah, gatau harus apa. Rias diwajah membantuku menyembunyikan sedihnya mata. 
Saat itu, semua memang gelap.

1 Februari 2019, di whatsapp . . .

Sky     : "10. Waktu kamu ninggalin aku, udah gak sayang?"
Earth   : "Ya namanya juga udah ditinggalin. Masih nanya sayang apa gak?"
Sky     : "Ini yakin jujur? Setelah ini kita gk akan ngmng lg dan jawabanmu akan ada dimemoriku"
Earth   : "Iya jujur"
Sky     : "Oke. Beda ya sm yg d tlp waktu itu jawabannya. 'kmu tau sayang aku cuma buat siapa'.
               Yaudah. Kmu bsa block aku lg kok"
Earth   : "Jd km mikirnya ak msh sayang gitu?"
Sky     : "Klo emg bukan buat aku, aku cm bsa blng makasih sih. Makasih untuk kepalsuannya"
Earth   : "Ak minta maaf ya. Ak banyak salah. Cuman ya udah. Idup jalan terus. Kalo aku gak bilang
               kaya gitu, km terus cari-cari ganggu-ganggu terus. Sekarang udah ya, selesai kan. Jangan
               ganggu-ganggu lg, jangan usik-usik lagi"

Sebelumnya seperti ada panah menembus hati. Sejak memoriku merubah segala hal tentangnya, panah itu ditarik paksa dan hanya luka yang tersisa. Hidup seperti awal lagi, menyembuhkan luka ini adalah fokusku. Setiap hari aku ucapkan dalam hati bahwa dia tidak mencintaiku, aku kuat dan akan menjadi lebih baik sehingga aku akan bahagia, dan suatu hari nanti dia akan menyesal, PASTI.
Menjalani hari yang baru, lingkungan baru, teman baru, dan pekerjaan baru, walau dengan mata setengah kosong. Tidak boleh bodoh lagi.
Takut sendirian masih aku alami. Waktu dihabiskan dengan shopping dan nonton drama korea (btw, aku bukan tipe yang suka nonton drama. Dengan situasi patah hati, genre action yang aku pilih. Liat cowo sok manis ke cewe tuh enek soalnya wkwk). Rutinitas ini aku jalani sampai akhirnya aku tidak pernah mengucapkan hal yang selalu aku ucapkan itu, sampai akhirnya aku bisa tertawa lepas, bahkan sampai aku bisa kembali senyum-senyum gak jelas pas cowo ganteng lewat didepanku (cuci mata boleh ya).
Bisa dibilang, aku lebih bahagia tanpanya. Sangat.
Hampir setiap hari orang tuaku menghubungiku (dulu, waktuku hanya dihabiskan videocall dengannya). Kakak-kakakku menjadi lebih perhatian. Teman-teman yang dulu diblock olehnya akhirnya bisa bersabahat lagi denganku. Aku juga bisa pergi kemana, dengan siapa, dan kapan saja tanpa perlu khawatir ada yang menunggu. Banyak sekali dukungan dan semangat dari orang disekitarku. Bahkan, ketika aku single, notif di smartphoneku jauh lebih rame dibandingkan dulu. Mereka adalah obatku dan moment ini adalah moment dimana aku sangat sangat bersyukur karena kehidupanku lebih baik. Akupun merasa sekarang aku lebih dominan sanguinis* dibandingkan dengan koleris**. Ya, jadi receh gitu deh sekarang wkwkwk

Hari berlalu, bulan berlalu. Ucapan "Iya nanti kami buktiin kalau kami cocok" sepertinya mulai sirna. Dia mulai update lagu jadul, lagu kenangan awal pacaran (Grenade - Bruno Mars). Suatu kebetulan atau memang disengaja? Tapi aku memilih ketidakpedulian. That's not of my fvcking business, right? Aku memaafkan dan aku tau semesta punya cara sendiri untuk membelaku. Sampai akhirnya dia menghubungiku kembali dan hari itu, dia membuatku tertawa. Aku menang?

Earth  : "... Ak juga gak tau kenapa ak chat kamu. Cuman ak mending sampein"
Sky      : "Honey, You put me into hell. I throught it. I found the way to heaven. And you're not the one
           who I wanna walk with anymore, for sure, 100%"

Dia bilang akan menungguku. Iya aku. Aku yang dibilang hanya pengganggu dan penghambat perkembangannya. haha funny.

Sebenarnya, chapter ini bukan bercerita lagi tentang siapa yang menyakiti dan tersakiti. Aku harus memberitahu semua orang kalau aku telah pulih. Tidak ada yang perlu disesali karena yang pergi akan tergantikan dan yang tulus akan mendapatkan yang lebih baik. Harus aku akui bahwa aku seharusnya berterima kasih pada Earth.
Sudah kukatakan bahwa hubungan kami tidak sehat. Memang idealnya disembuhkan. Tapi kalau salah satunya adalah penyebab penyakit, penyembuhannya memang harus ditiadakan bukan? Dari dulu, kami hanya putus nyambung, tidak ada yang benar-benar berani hidup sendiri. Caranya meninggalkanku adalah keputusan terbaik yang pernah ada dalam hubungan ini agar kami tidak bersama dan mau tidak mau ya harus hidup sendiri. Caranya meninggalkanku juga seperti vaksin yang melindungi seseorang. (semoga) Aku tidak akan mengulang cerita yang sama, terutama dengan orang yang sama.
Keluar dari toxic relationship itu memang susah setengah mati. Entah karena pertimbangan lamanya hubungan, keluarga yang sudah saling kenal, ataupun satu iman. Yang menjalani sampai tua adalah 2 karakter yang terlepas dari lamanya hubungan, kedekatan keluarga, atau bahkan ayat suci. Sebaik apapun dukungan dari luar, kalau dari dalam memang sudah hancur, mau diapakan? Semanis apapun diawal, semuanya bisa berubah, bahkan dalam hitungan detik. Ucapan dia "biar sama-sama ga nyakitin lagi" juga memang benar. Cerita ini adalah berkat.
Berapa lamapun aku ditunggu, kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi yang terakhir. Saling membahagiakan itu hanyalah harapan paling idealis yang tidak mungkin terealisasi. Cukup dengan cerita ini, kehidupanku menjadi jauh lebih realistis dan tentunya menyenangkan. 
Mungkin pulihku sekarang bukanlah bagian terbaik dari kisah hidupku. In this story, I just throught one bad day. I still have to fight through  some bad days to earn the best day of my life.

---This is my last chapter. Happy reading and thank you ! Much laff, Sky <3



OH IYA! Hari ini 5 Juli. Happy (failed) 8th Anniversary, Earth. Thank you and sorry.

Published on 5/7/2019 at 11.57pm

* tipe kepribadian sanguinis yang populer memiliki kepribadian yang menarik, suka bicara, suka tampil di depan umum, mampu menghidupkan pesta, memiliki rasa humor yang hebat, memiliki ingatan yang kuat terhadap warna, emosional dan demonstratif, ekspresif dalam mengutarakan maksudnya. Memilki rasa antusias yang tinggi, periang dan penuh semangat, memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan baik di panggung, penuh rasa ingin tahu, mudah mengikuti perubahan, berhati tulus, tampak kekanak- kanakan.
**Orang dengan tipe koleris memiliki kemampuan dan bakat memimpin, dinamis dan aktif, sangat memerlukan perubahan, selalu menginginkan perubahan dan memperbaiki kesalahan, memiliki kemauan yang tegas dan kuat, tidak emosional dalam bertindak, tidak mudah patah semangat, memiliki jiwa yang bebas dan mandiri, memiliki keyakinan yang teguh, bisa menjalankan kegiatan apa saja.