Jumat, 05 Juli 2019

Pertanyaan Kesepuluh

Aneh rasanya. Segalanya itu harus pakai hati, termasuk nulis. Mungkin ini akan menjadi chapter paling random karena, jujur ya, aku udah ga dapet feelnya sih untuk nulis. Semuanya tentu tidak akan kulupakan. Hanya saja, hampa. Aku pulih?

Awal 2019, tahun terberat dimana aku bukanlah diriku. Tatapan kosong, air mata jatuh tanpa sebab, tawa orang-orang disekitarku tidak terdengar, tidak tidur, tidak makan, merasa sangat bersalah, gatau harus apa. Rias diwajah membantuku menyembunyikan sedihnya mata. 
Saat itu, semua memang gelap.

1 Februari 2019, di whatsapp . . .

Sky     : "10. Waktu kamu ninggalin aku, udah gak sayang?"
Earth   : "Ya namanya juga udah ditinggalin. Masih nanya sayang apa gak?"
Sky     : "Ini yakin jujur? Setelah ini kita gk akan ngmng lg dan jawabanmu akan ada dimemoriku"
Earth   : "Iya jujur"
Sky     : "Oke. Beda ya sm yg d tlp waktu itu jawabannya. 'kmu tau sayang aku cuma buat siapa'.
               Yaudah. Kmu bsa block aku lg kok"
Earth   : "Jd km mikirnya ak msh sayang gitu?"
Sky     : "Klo emg bukan buat aku, aku cm bsa blng makasih sih. Makasih untuk kepalsuannya"
Earth   : "Ak minta maaf ya. Ak banyak salah. Cuman ya udah. Idup jalan terus. Kalo aku gak bilang
               kaya gitu, km terus cari-cari ganggu-ganggu terus. Sekarang udah ya, selesai kan. Jangan
               ganggu-ganggu lg, jangan usik-usik lagi"

Sebelumnya seperti ada panah menembus hati. Sejak memoriku merubah segala hal tentangnya, panah itu ditarik paksa dan hanya luka yang tersisa. Hidup seperti awal lagi, menyembuhkan luka ini adalah fokusku. Setiap hari aku ucapkan dalam hati bahwa dia tidak mencintaiku, aku kuat dan akan menjadi lebih baik sehingga aku akan bahagia, dan suatu hari nanti dia akan menyesal, PASTI.
Menjalani hari yang baru, lingkungan baru, teman baru, dan pekerjaan baru, walau dengan mata setengah kosong. Tidak boleh bodoh lagi.
Takut sendirian masih aku alami. Waktu dihabiskan dengan shopping dan nonton drama korea (btw, aku bukan tipe yang suka nonton drama. Dengan situasi patah hati, genre action yang aku pilih. Liat cowo sok manis ke cewe tuh enek soalnya wkwk). Rutinitas ini aku jalani sampai akhirnya aku tidak pernah mengucapkan hal yang selalu aku ucapkan itu, sampai akhirnya aku bisa tertawa lepas, bahkan sampai aku bisa kembali senyum-senyum gak jelas pas cowo ganteng lewat didepanku (cuci mata boleh ya).
Bisa dibilang, aku lebih bahagia tanpanya. Sangat.
Hampir setiap hari orang tuaku menghubungiku (dulu, waktuku hanya dihabiskan videocall dengannya). Kakak-kakakku menjadi lebih perhatian. Teman-teman yang dulu diblock olehnya akhirnya bisa bersabahat lagi denganku. Aku juga bisa pergi kemana, dengan siapa, dan kapan saja tanpa perlu khawatir ada yang menunggu. Banyak sekali dukungan dan semangat dari orang disekitarku. Bahkan, ketika aku single, notif di smartphoneku jauh lebih rame dibandingkan dulu. Mereka adalah obatku dan moment ini adalah moment dimana aku sangat sangat bersyukur karena kehidupanku lebih baik. Akupun merasa sekarang aku lebih dominan sanguinis* dibandingkan dengan koleris**. Ya, jadi receh gitu deh sekarang wkwkwk

Hari berlalu, bulan berlalu. Ucapan "Iya nanti kami buktiin kalau kami cocok" sepertinya mulai sirna. Dia mulai update lagu jadul, lagu kenangan awal pacaran (Grenade - Bruno Mars). Suatu kebetulan atau memang disengaja? Tapi aku memilih ketidakpedulian. That's not of my fvcking business, right? Aku memaafkan dan aku tau semesta punya cara sendiri untuk membelaku. Sampai akhirnya dia menghubungiku kembali dan hari itu, dia membuatku tertawa. Aku menang?

Earth  : "... Ak juga gak tau kenapa ak chat kamu. Cuman ak mending sampein"
Sky      : "Honey, You put me into hell. I throught it. I found the way to heaven. And you're not the one
           who I wanna walk with anymore, for sure, 100%"

Dia bilang akan menungguku. Iya aku. Aku yang dibilang hanya pengganggu dan penghambat perkembangannya. haha funny.

Sebenarnya, chapter ini bukan bercerita lagi tentang siapa yang menyakiti dan tersakiti. Aku harus memberitahu semua orang kalau aku telah pulih. Tidak ada yang perlu disesali karena yang pergi akan tergantikan dan yang tulus akan mendapatkan yang lebih baik. Harus aku akui bahwa aku seharusnya berterima kasih pada Earth.
Sudah kukatakan bahwa hubungan kami tidak sehat. Memang idealnya disembuhkan. Tapi kalau salah satunya adalah penyebab penyakit, penyembuhannya memang harus ditiadakan bukan? Dari dulu, kami hanya putus nyambung, tidak ada yang benar-benar berani hidup sendiri. Caranya meninggalkanku adalah keputusan terbaik yang pernah ada dalam hubungan ini agar kami tidak bersama dan mau tidak mau ya harus hidup sendiri. Caranya meninggalkanku juga seperti vaksin yang melindungi seseorang. (semoga) Aku tidak akan mengulang cerita yang sama, terutama dengan orang yang sama.
Keluar dari toxic relationship itu memang susah setengah mati. Entah karena pertimbangan lamanya hubungan, keluarga yang sudah saling kenal, ataupun satu iman. Yang menjalani sampai tua adalah 2 karakter yang terlepas dari lamanya hubungan, kedekatan keluarga, atau bahkan ayat suci. Sebaik apapun dukungan dari luar, kalau dari dalam memang sudah hancur, mau diapakan? Semanis apapun diawal, semuanya bisa berubah, bahkan dalam hitungan detik. Ucapan dia "biar sama-sama ga nyakitin lagi" juga memang benar. Cerita ini adalah berkat.
Berapa lamapun aku ditunggu, kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi yang terakhir. Saling membahagiakan itu hanyalah harapan paling idealis yang tidak mungkin terealisasi. Cukup dengan cerita ini, kehidupanku menjadi jauh lebih realistis dan tentunya menyenangkan. 
Mungkin pulihku sekarang bukanlah bagian terbaik dari kisah hidupku. In this story, I just throught one bad day. I still have to fight through  some bad days to earn the best day of my life.

---This is my last chapter. Happy reading and thank you ! Much laff, Sky <3



OH IYA! Hari ini 5 Juli. Happy (failed) 8th Anniversary, Earth. Thank you and sorry.

Published on 5/7/2019 at 11.57pm

* tipe kepribadian sanguinis yang populer memiliki kepribadian yang menarik, suka bicara, suka tampil di depan umum, mampu menghidupkan pesta, memiliki rasa humor yang hebat, memiliki ingatan yang kuat terhadap warna, emosional dan demonstratif, ekspresif dalam mengutarakan maksudnya. Memilki rasa antusias yang tinggi, periang dan penuh semangat, memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan baik di panggung, penuh rasa ingin tahu, mudah mengikuti perubahan, berhati tulus, tampak kekanak- kanakan.
**Orang dengan tipe koleris memiliki kemampuan dan bakat memimpin, dinamis dan aktif, sangat memerlukan perubahan, selalu menginginkan perubahan dan memperbaiki kesalahan, memiliki kemauan yang tegas dan kuat, tidak emosional dalam bertindak, tidak mudah patah semangat, memiliki jiwa yang bebas dan mandiri, memiliki keyakinan yang teguh, bisa menjalankan kegiatan apa saja.

Minggu, 27 Januari 2019

Pembersihan Nama Baik

Teruntuk kalian yang bilang bahwa Earth BUCIN
Berapa kali Earth menolak ajakan kalian untuk pergi bersenang-senang? Berapa kali Earth mengatasnamakanku ketika dia tidak bisa ikut pergi bersenang-senang dengan kalian? Dia itu gak bucin, hanya sedang menyeimbangkan seluruh perannya, menjadi anak, mahasiswa, teman, bahkan kekasih. Waktunya harus dibagi.
Aku melarangnya pergi hanya karena tiga hal. Pertama, jika kalian, para perempuan mengajaknya pergi dan tidak ada teman laki-lakinya. Waraskan jika aku melarangnya pergi dengan banyak perempuan tanpa ada teman laki-laki? Cuma dia loh yang laki-laki. Jika menurut kalian aku tidak waras, biarkanlah pacar kalian untuk pergi dengan banyak perempuan, bukan hanya satu kali, tapi biarkan pacar kalian pergi sesering mungkin. Atau, biarkanlah pacar kalian pergi dengan perempuan yang paling tidak kalian sukai, dengan perempuan yang menyukai pacar kalian.
Beri tahu aku dimana sisi ketidakwarasanku, sisi keposesifanku.
Kalian harus tau, untuk kerja kelompok walaupun dia laki-laki seorang diri, aku memintanya untuk mengerjakan bersama kalian secara langsung.
Kedua, jika kalian mengajak Earth pergi dan akan menghabiskan banyak uang (minum-minum atau bayar ini dan itu untuk organisasi) atau pulang malam gak jelas (main warnet), tentu aku sangat melarangnya. Ya, aku salah. Aku kira dia benar-benar krisis uang, ternyata tidak. Tapi bukan salahku melarangnya untuk menabung dan tidak melakukan hal-hal tidak penting seperti itu karena dia yang cerita padaku kalau dia memang sedang krisis keuangan. Bagiku, berinvestasi dihari muda untuk hari tua karena masa tua adalah tanggungan kita sendiri.
Ketiga, dia sibuk dari senin-jumat bahkan sabtu dan minggu, ketika dia ada waktu luang dan dia malah pergi main dengan kalian, tidak berhak kah aku marah karena diapun belum meluangkan waktunya untukku? Aku terhalang jarak kurang lebih 830km!
Aku juga tahu, banyak teman kost Earth yang bilang Earth bucin. Kost khusus laki-laki kan? AC12? Atau teman kampus lainnya? Bukan mendoakan, tapi jika suatu saat kalian harus berjarak dengan pasangan kalian untuk waktu yang cukup lama, aku tantang kalian untuk tidak memberikan kabar kepada wanita kalian bahkan tolak untuk melakukan video call. Pergilah dengan banyak perempuan bahkan dihari ulang tahun wanita kalian. Ceritakan keburukan wanita kalian kepada wanita lain yang menyukai kalian. Atau, jangan berikan waktu untuk wanita kalian, sibuklah dengan urusan kalian atau main terus-terusan dengan teman-teman kalian. Sanggup?
Aku hanya melarangnya untuk tiga hal diatas. Selebihnya, aku rasa dia menggunakan namaku. Kalau dia sedang mager keluar, harus belajar, banyak tugas, gak ada uang, atau apapun dan kalian mengajaknya pergi lalu dia menolak, dia akan menolak dengan bilang "gak boleh sama cewe gw" atau "gw mau sama cewe gw" atau "cewe gw mau sama gw".
Aku tidak segila itu melarang segala aktivitasnya. 
Bulan November, dia banyak sekali jadwal rapat dan mengeluh atas waktu belajar. Bahkan di hari ulang tahunnya dan hari ulang tahunku, dia pergi rapat. Dihari ulang tahunku bahkan dia pergi dari pagi hingga malam. Tapi ternyata, fakta yang aku dapatkan, selama November itu dia hanya main dengan teman-temannya. Fakta ini aku dapat dari komentar di foto Instagram perempuan yang menggantikanku. Earth mempermainkanku? Atau Earth mempermainkan kalian? 
Memangnya program beasiswaku mengajarkanku untuk mengganggur sehingga seluruh waktu hanya akan aku habiskan untuk meneror segala aktivitasnya?
Intinya, aku tidak segoblok itu untuk merasa berhak mengatur keseluruhan hidup seseorang. Jadi, berhentilah menguntitku! Earth milik kalian sekarang.
Terima kasih atas saran-saran kepadanya untuk memutuskanku, terima kasih juga telah mendukungnya untuk berkhianat, setelah kami berjuang selama tujuh tahun.

Laff, Sky.

Rabu, 16 Januari 2019

Berakhirnya Kita

Kenapa Sky dan Earth? 
Bukan karena aku merasa lebih tua, jenjang pendidikan lebih tinggi, atau apapun. Bukan juga karena aku merasa derajatku lebih tinggi. Beberapa bulan lalu kami pernah membicarakan masa depan. Dua anak cukup, katanya. Setelah pulang dari Museum Planetarium, kami mau punya anak dengan nama Sky, Sea, atau Earth, tentunya diikuti dengan nama belakangnya. 
Waktu aku cari nama samaran, aku teringat hal ini.

Kenapa Kotak Hitam Kita?
Waktu dia meninggalkanku, aku sampai pada titik lebih baik ditinggal mati daripada berakhir seperti ini. Ada satu puisi yang kubuat dan aku menyebutkan bahwa semua kenangan akan disimpan di kotak hitam. Semua warna dikanvas kami telah berubah.
Daripada marah di medsos atau memendam semua perasaan, aku memutuskan untuk menulis. Awalnya aku mau menamai blog ini 'Kotak Hitam Ku', namun tidak bisa terdaftar. Kemudian aku coba 'Kotak Hitam Aku', tapi juga tidak bisa. Dan jadilah 'Kotak Hitam Kita'.
Blog ini murni memang untuk meluapkan semua rasa dengan sedikit unsur 'peringatan' mengenai apa yang telah dia lakukan kepadaku. Jahat. Sungguh.


Oke, aku memutuskan untuk mengakhiri cerita ini. Ya, gantung ditengah. Cukup orang-orang terdekatku yang mengetahui keseluruhan cerita. 
"Mereka tidak membencimu, Earth. Teman-temanku juga menyalahkanku dan sekaligus menyemangatiku untuk melanjutkan semuanya tanpamu".
Kenapa aku memutuskan untuk berhenti cerita? Ya, setelah kupikir kembali, aku rasa dia tidak layak untuk terlalu dikenang dan menjadi terkenal karena cerita ini. Dia bukan bagian penting dari diriku bahkan hidupku lagi. Intinya aku pernah meletakkan kepercayaanku 100% dan pada akhirnya aku dikhianati. Sungguh, psikologisku terganggu dan aku pasti akan pulih.
Entah mereka sudah berapa lama, perempuan itu bilang bahwa mereka memang sudah sering jalan. Bahkan kue untuk ulang tahunku aja  (20 Nov 2018) mereka yang membelinya. Sesungguhnya, jika tau seperti itu, aku tidak sudi menerima dan tersenyum ketika meniup lilin bersamanya tengah malam itu. Iya, perempuan yang Earth bilang memang sudah menyukainya dari awal kuliah. Aku sadar, aku kalah akan satu hal. Jarak.
Tapi, dia jalan dengan perempuan yang aku tidak suka, sering kata perempuan itu. Bagaimana jika aku yang melakukannya? Bagaimana jika aku yang sering pergi bersama laki-laki yang tidak dia sukai? Ayolah, pondasi kami memang kepercayaan. Tapi jika hanya salah satu yang sangat percaya dan yang lainnya 'menggunakan' kepercayaan itu, bukankah pondasi itu tidak berhasil dibangun?
Aku sudah menyadari dari jauh hari bahwa hubungan kami memang tidak beres, sama-sama keras kepala, mempertahankan ego masing-masing, dan putus nyambung ratusan kali. Biasanya, semua perdebatan selesai walau dengan pertengkaran. Tapi tidak dengan malam itu, malam dimana dia lebih memilih perempuan itu.
Mungkin semua orang menyalahkan sikap posesif ku. Iya aku posesif. Aku tidak suka jika dia terlalu lama pergi atau dekat dengan banyak perempuan. Tapi diapun bersikap demikian.  Bahkan dia cemburu dengan wali kelasku atau bapak gr*bc*r yang menggantarku pulang. Sikap posesif itu bukan hanya milikku, miliknya juga.
Hubungan kami tidak sehat. Bukannya diusahakan untuk sembuh, dia malah menyuntik mati hubungan ini. 
Jika dia membuangku seperti sampah dan melupakan kenangan selama tujuh tahun bersama, akan aku pastikan bahwa dia telah membuang berlian.
Tidak akan ada kata 'kembali' lagi, aku jamin.
Di hubungan kami, walaupun  sekarang aku sangat tersakiti, aku sadar bahwa aku juga memiliki porsi kesalahanku. Akupun telah belajar dan aku tidak akan mengulangnya jika suatu saat aku bisa meletakkan kepercayaan lagi kepada seorang pria yang tulus.

Untukmu, Earth.
Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan berakhir seperti ini. Aku kira kita memang akan menikah seperti bayanganmu. Aku sudah berencana menunggumu menyelesaikan kuliahmu empat tahun lagi dan merintis karir bersama. Ingat impianku dikertas itu untuk memiliki apotek bersamamu? Akupun sudah membuat rencana agar kita memiliki financial stability, untuk masa tua. 
Ada beberapa kalimatmu yang masih terngiang di kepalaku.

"Neng, I love you hehehehe *sambil gaya nyanyi terus joget-joget*"
"Kenapa ya aku suka cewe yang badannya kecil? Pas buat dipeluk"
"Suka cewe putih terus kecil *sambil peluk*
"You are mine"
"Jangan deket-deket, dia mau apa yang aku punya"
"Jangan tinggalin aku ya"
"Aku gak punya siapa-siapa lagi kalau gak sama kamu"
"Pokoknya aku mau sama kamu. Kalau gak sama kamu, aku gak nikah"
"Aku mau jadi Bhante aja kalau nanti akhirnya gak sama kamu"
"Percaya sama aku. Aku cuma sama kamu"
"Tolong percaya. Di sini juga gak ada yang mau sama aku. Cuma kamu yang mau"
"Suatu saat kita akan balik lagi ke tempat ini" - GWK
"Jangan, nanti kamu gendut"
"Hihhhh, mataaaaaah"
"Kamu yakin mau nyerah setelah apa yang udah kita lewatin selama ini?"
"Kalau gak suka tuh ngomong! Bukan update instastory! Biar apa men"
"mumumu"

Sejak saat aku tahu semuanya, aku percaya satu kata. Bullshit. Jika kau membenci caraku, pergilah. Buatlah jeda. Capailah semua mimpimu. Terdengar jauh lebih elegant dan terhormat, kan? Bukan malah dengan cara pelarian ke perempuan lain.
Kau tahu? Aku, salah mengenal orang untuk waktu yang sangat sangat lama.
Sudahlah. Nothing ever happens if you don't make it happen.
Aku hanya ingin minta maaf dan berterima kasih.
Maaf telah membatasimu berteman. Ini karena aku mempercayai ceritamu dimana kamu membenci teman-temanmu karena kamu merasa dimanfaatkan oleh mereka semua, entah untuk tugas atau kepentingan pribadi teman-temanmu. Aku juga percaya ceritamu tentang perempuann lain yang menyukaimu.
Maaf telah membatasimu berorganisasi. Aku mempercayai ceritamu dimana setiap kali kamu akan ujian (atau kuis), kamu rapat hingga malam dan kamu mengeluh kalau waktumu untuk belajar kurang. Cerita tentang nilai-nilaimu dan ceritamu bahwa kamu juga lelah mengikuti organisasi karena menurutmu, orang-orang yang terlibat bukanlah orang-orang berguna. Kamu merasa hanya kamu yang diandalkan, bukan?
Maaf telah membatasimu 'minum' dengan teman-temanmu, melarangmu menghabiskan uang di warnet, membatasi pengeluaranmu, dan memintamu menabung bahkan berinvestasi. Lagi lagi aku percaya ceritamu. Cerita yang kau sampaikan bahwa keluargamu sedang berada pada titik ekonomi terendah dan sedang berada dalam kondisi sulitnya keuangan. Setelah kupikir, aku rasa uang bukanlah barang langka untukmu. Kesulitan keluargamu juga bukan kesulitanmu. Kamu memilih duniamu yang sekarang dan aku malah berusaha peduli atas dunia yang kau lupakan.
Maaf aku marah ketika kamu ngomong kasar secara berlebihan, bahkan kepadaku. Aku yang sudah ada dilingkungan kerja lebih dulu menginginkanmu untuk tidak terbiasa bersikap seperti itu.
Maaf juga telah cerewet mengenai pola makanmu. Sakit itu mahal walaupun kamu masih muda. Ingat, di usia seperti ini saja kolesterol kamu sangat tinggi. Itu juga alasanku selalu masak ketika kamu datang ke rumah.
Maaf jika aku selalu meminta kabar disetiap menitnya. Aku pikir, jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu, aku dan keluargamu tahu harus menghubungi siapa atau mencari kemana. Kau sendiri tahu kan kalau aku dan keluargamu itu terhalang jarak dengan dirimu?
Maaf karena aku selalu ingin denganmu. Akupun tidak meminta adanya jarak diantara kita, sungguh.
Maaf aku selalu memintamu pulang ketika libur tiba. Kamu harus menemui keluargamu apapun kondisinya. Bantu papamu. Temui aku dan juga keluargaku, mereka butuh pembuktianmu. Kami butuh kamu.
Maaf aku menutupi satu hal. Sakit hati orang tua ku masih ada hingga sekarang. Dari awal, orang tuaku telah meminta untuk berhenti tapi aku malah bertahan dan memperjuangkanmu. 
Maaf pula aku tidak pernah memuji dan hanya memendam rasa bangga dan kagumku. Dulu, aku memujamu.
Terima kasih telah mengajarkanku untuk tidak meletakkan seluruh kepercayaan kepada seseorang.
Terima kasih pula karena di akhir cerita, aku telah diberikan ruang kehangatan oleh keluargamu. 
Terima kasih diakhir cerita kamu mengajarkanku untuk melepaskan kemelekatan. Anicca.
Terima kasih telah melukisku.
Terima kasih telah menjadi bagian dari ceritaku.
Satu lagi. Terima kasih untuk cerita akhir yang membuatku hampir gila dan kehilangan banyak berat badan. Aku senang, berat badan yang aku inginkan (39-40kg).
Aku mendoakanmu dan keluargamu.

Untukmu yang sekarang menjadi penggantiku.
Jika kamu rasa caraku menghadapi dan merespon semua ceritanya salah, buktikan pada semesta bahwa kalian juga akan melewati tahun dan bisa menyatukan segala perdebatan. Buktikan pula kamu akan melakukan seluruh nasihat yang kau tujukan padaku saat berkirim pesan di DM Instagram.


Makasih untuk keluargaku, teman-teman SMA, teman-teman di tempat ibadah, Cantique, teman-teman kampus, dan Ethan.
Makasih juga untuk teman-teman yang setia menunggu cerita ini.

Aku iklas, aku telah cukup menyakiti diriku sendiri. I will treat myself like someone I love.
I deserve someone much better, for sure.

Terima kasih pulau Jawa dan Bali atas semua kenangan.

Laff! Sky.

Sabtu, 12 Januari 2019

Hancur

Lukanya nusuk. Sebenernya aku gak ngerti kenapa akhirnya begini. Beneran aku yang terlalu posesif dan menghambatnya atau dia yang bermain-main dengan perasaanku? Rasanya baru berkeliling kota Jakarta bersamanya, hari itu menyenangkan. Ku kira hari depan akan seperti itu, ditemani oleh setiap hadirnya.
Aku tidak menyesal dengan semua pengorbanan. Bukan cuma dia yang mengorbankan waktu, tenaga, emosi, teman, uang, dan lainnya. Aku juga. Dengannya, aku merasa cukup. Hanya saja, mengapa? Apa yang lebih dari perempuan itu? Dia bilang, hanya aku yang tau sayangnya untuk siapa. Masih untukku? Masihkah dia menangis untuk 2 perempuan saja? Ibunya dan aku.
Masihkah dia hanya ingin melindungi 3 perempuan saja? Ibunya, adik perempuannya, dan aku.
Tahun memang membuat semuanya terlihat dan terasa membosankan. Sama seperti remaja yang sangat ingin pergi dari rumah karena dilarang ini dan itu oleh orang tua. Itu keadaannya kan? Dia ingin pergi dariku?
Kalau semua laki-laki yang telah melewati tahun bersama wanitanya, ketika masalah kecil yang dianggap sepele lalu menjadi rumit karena tidak pernah dibicarakan, jika pergi atau mencari yang lain adalah sebuah solusi, angka perceraian di negeri ini pasti akan melonjak tajam. Atau setidaknya, tingkat patah hati akan bertambah.
Di sini aku terdiam, menahan air mata.

Kamis, 10 Januari 2019

Pasang Surut

Aku cape mengemis kabar dan waktu untuk bertemu. Kehadiranku juga tidak dihargai dan diingat. Dia gak pernah inget Valentine, Anniversary, bahkan ulang tahunku. Maksudku, dia tau hari itu, tapi menurutnya hari itu sama seperti hari lainnya. Aku pun tidak berharap ada hadiah mahal, setidaknya diingat dengan hadiah kecil, sebatang coklat, kartu ucapan, balon, atau pergi makan pinggir jalan juga gak apa.
Aku pernah mendengar istilah 'perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan'. Hubungan ini sebenarnya diluar ekspetasiku. Aku selalu menghargai hadirnya, mengingatnya dimanapun aku berada. Kemanapun pergi, entah hari istimewa atau bukan, pasti ada hal manis yang kuberikan untuknya. I knew he wouldn't do the same. 
Kami bertengkar mengenai waktu sampai keberadaanku yang tidak dianggap itu. Setelah dia pulang dari Lampung, dia menemuiku di tempat ibadah. Pagi itu, dia memberikanku tas ransel hitam besar. Boneka Keroppi. Bingung sebenernya kenapa Keroppi, aku gak pernah cerita aku suka Keroppi dan aku memang gak suka. Ternyata, dia juga gatau nama karakter boneka itu Keroppi. Dia kasih aku itu dengan alasan karena warnanya, hijau. Ya, warna kesukaannya dengan alasan mamanya juga menyukai warna hijau. Sejak saat itu, si hijau itu menemaniku tidur.
Tapi, masalah waktu itu tetap menjadi perdebatan. Hari-hari diisi dengan pertengkaran. Mungkin karena sama-sama cape, kami jadi jarang berhubungan via chat atau video call. Dia datang jemput untuk pergi ke tempat ibadah aja tiba-tiba, tanpa chat dan akhirnya dia selalu menungguku siap-siap. Sejak itu komunikasi kami buruk sekali. 
Mei 2013, lupa tanggalnya, kami ikut jalan-jalan ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ada keluarganya dan keluargaku juga. Untunglah kami dan teman-teman kami duduknya terpisah dari orang tua, ya walaupun aku gak duduk sebelahan sama dia, depan belakang aja, tapi kami udah seneng. Yang membuatku senang, bertemu itu membuat komunikasi menjadi jauh lebih baik. Sekitar 1 minggu kami dalam perjalanan itu.
Btw, pas jalan-jalan itu aku lagi libur UN dan dia, tentunya bolos sekolah wkwkwk Sepulang jalan-jalan, ada jadwal perpisahanku. Sudah hampir mulai dan dia masih belum datang juga. Komunikasi kami yang buruk juga membuat kami gak bertukar kabar. Yang kutahu, aku hanya memberitahu hari dan jam acara perpisahanku, berharap dia datang. 
Dia datang dengan kemeja hitam yang kuberi, bahkan dia datang lebih dulu dibanging mamaku. Itu adalah moment pertama aku semobil hanya dengannya dan mamaku, sewaktu pulang dari acara perpisahan.
Liburan sekolah tiba, hubunganku tambah rumit. Bisa dibilang putus kah? Dia pergi ke Bali bersama keluarganya. Aku masih inget lebaynya dia yang galau dan nulis-nulis namaku dipantai. Dia bilang, dia suka Pulau Dewata itu. Dia juga membuatkanku kalung kayu bertuliskan namaku. 
Tahun ini kami tuh menjadi partner kerja. Dia menjabat sebagai Ketua Remaja di tempat ibadah dan akulah wakilnya. Ada dua wakil, aku dan temanku, Tata. Dengan adanya kontrak kerja ini, masalah pertemuan bisa teratasi karena kami harus datang setiap ibadah, tanggung jawab. Tapi hubungan kami disana itu tanpa status. Rumit.
Saat dia ulang tahun, tepat dihari minggu. Kami sedang mengadakan suatu acara sehingga kami harus menginap dari hari sabtu, bersama teman-teman panitia yang lain. Tengah malam, karena aku Ketua Acara, aku membuat briefing tengah malam sekaligus ada unsur kesengajaan untuk membuat kejutan ulang tahun . Mungkin saat itu dia sadar betapa aku sangat peduli dan tulus, dia memintaku untuk kembali. Maksudnya pacaran lagi, kan tadinya tanpa status. Gatau kenapa, aku menolak. Aku ingin hubungannya tetap seperti ini, tanpa status.
Saat aku ulang tahun, seperti biasa aku makan malam bersama keluargaku. Aku juga mengundang teman-teman ibadah. Earth juga aku minta untuk datang. Teman-temanku datang bawa kue coklat, sedangkan Earth tanpa kabar. Lalu seorang temanku bilang,

"itu kuenya dari Earth. tadi dia datang pas kita mau pergi, nganterin kue doang terus bilang gak bisa datang. Gak dibolehin (sama mamanya)".

Oh, ternyata dia ingat aku. Selama masih diingat, aku sudah bahagia <3
Akhir tahun 2013, kami mendapatkan tugas menghadiri acara keagamaan nasional, tepatnya di Mojokerto, Jawa Timur. Lupa dia lagi ngapain, tiba-tiba dia jatuh dan betis sekitar tulang keringnya terluka, bercucuran banyak darah. Menahan malu, dia berdiri dan bilang, 'enggak, enggak sakit'. Aku gak percaya itu gak sakit :p waktu diobati, mukanya merah dan Earth memegang tanganku erat-erat wkwkwk Selama acara, sekitar satu minggu juga, jalannya jadi gak bener :p
Begitulah kami melepaskan tahun 2013, bersama-sama menerbangkan lampion dengan harapan. Harapanku, aku bisa terus sama Earth dan gak banyak berantem. Gatau deh doa dia apa.


bersambung . . .
Laff!
Sky.


Notes
Sky terima kritik dan saran dikolom komentar;) Pertanyaan juga boleh seputar Sky dan Earth.
Terima kasih telah membaca.

Selasa, 08 Januari 2019

Belum Saatnya

Mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan. Berjuang mendapatkan satu sama lain, tentu semua keindahan, kelebihan, dan kedewasaan dari pasangan akan terlihat. Ya karena memang itu yang dipasarkan oleh masing-masing orang. Apalagi, masa-masa jatuh cinta adalah salah satu masa dimana hormon kebahagiaan (endorphin) terus diproduksi oleh tubuh. Tapi, yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah bagaimana mempertahankannya, konsisten pada satu pilihan, dan membangun mimpi sama-sama.

Masih diawal tahun 2012, imlek pertama. Pagi itu,

"Udah dapet angpao berapa?" Tanyanya.

Wajarlah ya, salah satu kebahagiaan buat yang belum menikah kan dapet angpao. Kami berkumpul dengan keluarga masing-masing. Hanya komunikasi via chat karena kami tidak bertemu. Video call juga enggak. Imlek itu waktunya berkumpul dengan keluarga. Dan itu imlek pertama kami.
Oh iya! Ada satu sikap Earth yang kadang juga membuatku kesal. Kalo lagi chat atau video call, dia suka tiba-tiba bilang 'bentar'. 'Bentar' kan berarti sebentar ya, tapi dia tuh gak sebentar. 'Bentar'nya dia itu bisa 2,3,4,5 jam .-. Ngeselin kan ya. Bilang aja gitu kalo mau ngapain, gak usah bilang "bentar". Kan biar akunya juga gak nungguin dan ngarep dia cepetan balik. Gemesssss deh ><
Yang bikin gemes lagi, aku lagi cerita nih di Skype. Udah ngomong Panjang x Lebar x Tinggi, lah pas diliat, dianya udah tidur, ngorok (mendengkur) pula >< gemesin banget dah pokoknya, pengen dimakan -.-"
Seperti cerita dibagian sebelumnya, kan udah dijelasin ya kalo kami jadi makin susah ketemu. Nah ditahun ini, kelas 8, Earth tuh jadi ketua OSIS SMPnya. Saat itu pula ada anak baru dikelasnya, Cinde. Mereka deket banget dan akhirnya Cinde resmi menjadi salah penyebab pertengkaran juga. Katanya sih buat temen curhat dan diskusi gitu di sekolah, tapi cewe mana yang suka cowonya deket-deket cewe lain walau sebatas teman? Kan kami juga dulu teman. Earth jaga jarak, dia mengalah, setauku sih begitu.
Karena pertemuan itu jadi langka, pertemuan itu gak cuma di tempat ibadah aja. Akhirnya kami bener-bener ngerasain pacaran berdua karena kalo lagi libur, dia main ke rumahku. Kadang juga pacaran di depan rumah, duduk di motor sampe gelap. Banyak nyamuk juga kayanya gak kerasa deh, pokoknya harus ketemu. Gamau tau, harus ketemu supaya gak banyak berantemnya, biar seneng akunya. Ujan-ujanan bareng aja aku mah udah seneng. 
Eh, kamu inget gak ujan-ujanan pertama kita? Waktu itu, otw ke tempat ibadah, tiba-tiba ujan terus aku peluk dan kamu yang bilang kalo ini ujan-ujanan pertama kita.
Tapi, pertemuan yang diharapkan itu hanya sebatas ekspetasi. Akhir tahun itu, hubungan kami renggang. Aku pergi mengunjungi keluargaku di Lampung dan disana gak ada sinyal. Gak chat atau video call beberapa hari. Saat aku pulang, arah Pelabuhan Bangkahauni ke Pelabuhan Merak, ternyata dia dan keluarganya juga pergi ke Lampung, arah Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bangkahauni. Aku pulang dan dia pergi, dikapal yang berbeda, berpapasan seharusnya malam itu. Tidak direncanakan, aku rasa semesta sedang berencana, meminta kami bertahan karena karma kami belum selesai.


bersambung . . .
Laff !
Sky.

Sabtu, 05 Januari 2019

Derajat

Pasti pernah denger istilah "Don't judge the book by its cover" kan? Sederhana, tapi coba deh kalo kalian lagi dijalan, apalagi sendirian, kalian pasti menghindari segerombolan orang yang mirip preman kan? Kalian juga pasti takut kalo ketemu atau berhadapan dengan orang yang tinggi besar dan bertattoo kan? Jadi istilah tersebut hanya sekedar mudah diucapkan.
Akibat aku pacaran sama Earth, gatau kenapa, banyak yang memandangku sebelah mata. Aku pernah dinilai hanya dari luarnya saja.


Sebelum aku lanjutin ceritanya, kalian harus tau sesuatu. Sebenarnya, aku tidak mendapatkan restu dari keluarga Earth dengan beberapa alasan. Aku rasa, setelah aku diam selama ini, aku juga berhak memberikan pembelaan. Iya, pembelaan yang selama ini aku tahan karena tidak ingin masalah semakin rumit. (Aku tau alasan-alasan ini langsung dari Earth dan rupanya semua orang dilingkunganku sudah tau. Hanya, aku telat mengetahuinya dan setelah tau, akupun lebih memilih bersikap bodo amat).
1. Aku salah satu orang yang suka pake celana pendek + kaos + sandal jepit. Lalu, aku juga terlahir dengan wajah yang menurut orang-orang sinis dan jutek. Keluarganya, terutama mamanya, menganggap kalo aku itu gak sopan dan 'cewe nakal'.
Pembelaanku : bukankah berpakaian seperti itu sangat universal selama aku tidak memakainya untuk acara-acara formal? Aku juga tau kapan harus pake celana panjang, kemeja, dress, sepatu atau heels. Bukan genit, centil, atau apalah sebutannya. Aku suka, ya santai aja kalo pake celana pendek + kaos + sandal jepit. 
Untuk wajah, kalo berpapasan dan aku kenal, aku gak akan sungkan untuk menyapa lebih dulu. Ini tuh cuma bawaan dari lahir aja. Lagi pula, aku bingung. Orang-orang yang suka membicarakanku itu kenal denganku dan suka meminta bantuan orang tuaku, bahkan anak-anak mereka juga teman-temanku. Ya, aku gatau alasan mereka. Mungkin aku pernah memasang muka jutek, tapi sungguh, aku tak bermaksud begitu.
2. Yang ini agak rumit, tapi aku coba jelaskan. 
Dulu, orang tuaku dekat dengan seseorang, anggaplah X. Si X ini sangat sangat boros dan selalu dinasihati oleh orang tuaku untuk merubah pola keuangannya. Kalian tau kan kalo boros dan gak kelola keuangan dengan tidak baik akan berakhir seperti apa? Nah, salah satu anak si X ini dekat dengan tantenya Earth. Iya, tantenya yang dulu bilang mau jodohin aku. Anaknya si X itu bilang bahwa keluargaku 'penjilat' dan si anak menyalahkan orang tuaku atas masalah yang menimpa X. Tantenya Earth percaya. 
Bisa dibilang, Earth adalah salah satu anak orang kaya di tempatku. Sejak anak si X menyebarkan hoax seperti itu, mamanya berpikir kalo aku matre, ngabisin duit Earth aja. Aku gatau apa aja yang udah keluar dari keluarga Earth mengenai keluargaku. Setauku, martabat keluargaku direndahkan oleh keluarganya saat itu. Orang tuaku sakit hati, tapi gak pernah ngomong. Mungkin orang tuaku pikir kalo kami masih anak-anak dan nanti juga putus.
Pembelaanku : saat itu, papaku adalah ketua tempat ibadah dan mamaku mendampinginya. Apakah mungkin orang tuaku menghancurkan keluarga orang lain? Pemimpin tempat ibadah mana yang menghancurkan umatnya?
Matre. Aku memang dididik untuk hemat, membeli barang yang benar-benar penting. Kalian bisa tanya langsung kepada Earth, siapa yang dari dulu keluar uang lebih banyak. Makan nasi goreng yang hanya sepuluh ribu rupiah juga aku bayar sendiri. Apalagi, aku bukan tipe cewe yang suka ngerengek minta ini dan itu.
3. Aku ikut organisasi keagamaan. Tentu uang yang dipakai adalah uang umat sehingga harus dipergunakan sebaik-baiknya. Setiap ada hal yang menurutku lebih murah dengan hasil yang sama, kenapa tidak? Tapi ada beberapa oknum yang tidak suka dengan sikapku karena ingin mencari keuntungan dan akhirnya mereka ngadu (lapor) ke mamanya Earth.
Pembelaanku : aku tau untuk masalah ini pasti banyak omongan simpang siur. Yang penting aku udah melakukan hal yang benar. Sudah sepantasnya sebagai anak ketua tempat ibadah membantu papaku.
4. Kami pernah mengalami kecelakaan. Gak parah, lukanya sedikit sekali. Kakinya berdarah dan aku hanya memar-memar. Dia pun pulang, mamanya marah dan bilang "Kalo Sky emang sayang, harusnya dia anter kamu pulang. Harusnya kalo sayang itu tau harus ngelakuin apa".
Pembelaanku : kalian harus melihat langsung saat aku menawarkan diri untuk membawa motornya dan memboncengnya pulang, berkali-kali aku yakinkan bahwa aku harus anter dia pulang. Dia menolak.
Kenapa aku harus menceritakan ini diawal? (Bukan karena ada yang memintaku untuk tidak membawa keluarga Earth ke dalam cerita dan aku malah dengan sengaja membawanya, aku sudah mulai proses menulis ini sebelum orang itu meminta). Ya murni memang karena dari awal kami pacaran, itu masalah yang kami hadapi. Dan dari sisi Earth pun, dia tidak melakukan pembelaan untukku. Kesal memang tidak dibela, tapi dengan kemampuan yang kumiliki, aku yakin suatu saat akan terbuka ruang untukku. Kami memilih bersikap cuek dan tetap melanjutkan hubungan kami. Kalo kata teman-teman sekolahku, aku bodoh kalo dihadapkan oleh masalah hati.
Dengan adanya masalah itu, sabtu minggu semakin sulit ketemu. Dia dan keluarganya suka pergi. Seperti hubungan yang sudah lama juga, kadang aku harus mengemis kabar darinya. Sikap posesif kami juga menjadi pemicunya. Ini serius, bukan cuma aku yang sangat posesif, dia juga. Skype pun mulai terisi percakapan-percakapan. Kalo berantem, kami gamau didengar oleh orang rumah, jadi ya kami chat, tapi video call tetap on.
Awalnya ya pasti satu dua kali aja berantemnya. Ketemu juga gak begitu sulit selama Earth juga mau ketemu. Masih ibadah dan main bareng. Waktu itu, kami termasuk yang paling aktif di tempat ibadah. Jadi semua kegiatan ibadah, di dalam ataupun luar kota kami ikuti. Keberuntungan, pacaran gratis sekaligus ibadah bersama.
Selain di tempat ibadah, kami juga aktif di OSIS sekolah masing-masing. Jadi jangan bilang kalo kami aktif di tempat ibadah karena ingin pacaran gratis aja. Kami memang senang berorganisasi. Waktu kami juga banyak tersita untuk itu. Jadi tau kan seberapa aku berharap untuk bertemu di sabtu dan minggu? Serius, masalah ketemu ini yang sering membuat kami berantem. Entah aku yang gak bisa atau dia yang gak bisa datang di sabtu minggu itu. Tapi setiap bertemu, aku menyukainya. Di setiap diskusi, aku punya partner yang tepat.

bersambung . . .
Laff!
Sky.

Notes :
1. Pembelaan yang aku berikan itu berdasarkan pandanganku. Aku tidak meminta semua orang sependapat karena aku juga tau kita semua punya kacamata kita masing-masing.
2. Sky terima kritik dan saran dikolom komentar ;) Pertanyaan juga boleh seputar Sky dan Earth.
Terima kasih telah membaca.

Kamis, 03 Januari 2019

Selalu Indah, Diawal

Awal dari sebuah hubungan tidak ada yang tidak indah. Kalau ada salah satu diantara kalian yang merasa diawal aja udah gak indah, ada tekanan, mendekat dengan suatu alasan dan tujuan tertentu, atau bahkan sebagai pelarian, berpikirlah ribuan kali untuk melangkah bersama, sebelum terlambat dan pada akhirnya hanya saling menyakiti. Cinta tidak sebercanda itu. Percaya padaku.
Awal hubungan kami, tentu indah.


Hari itu juga, aku langsung beli nomor - kalo kalian pernah mengalami nomor couple dengan pacar kalian, itu berarti kalian sudah tua :p- Nomornya xxxxxxxxxx81 dan nomorku xxxxxxxxxx18.
Prestasi pertama kami itu dirayakan.
11 Juli 2011, semua yang ikut ret-ret pergi ke pantai  di Anyer, Banten. Aku suka air, pantai, dan suara ombak. Tujuh tahun lalu, aku gak tau kalo ternyata matahari musuhku, penyebab freckles. Pas aku lagi memandang ke arah laut, tiba-tiba ada yang siram air ke arahku. Bukan Earth, tapi papanya. Bukan cuma kaget, tapi juga grogi dan malu hehe aku dan papanya siram-siraman air. Gak lama dari situ, kami naik banana boat. Pertama kalinya untukku, dan langsung bersamanya. Sama Earth, bukan papanya wkwkwk
Waktu semuanya jatuh dari banana boat, mereka panik, padahal semuanya itu pakai pelampung. Gak akan tenggelam juga, tapi panik ya mau gimana lagi wkwk Aku bisa berenang, gak usah tanya jago atau enggak :p Saat itu,yang jadi masalah adalah perih matanya. Siapa menyangka akan berenang ditengah laut? Earth juga bisa berenang, dia menghampiriku dan memegangku kembali ke kapal. Manis kan sikapnya?
Gak cuma pantai, kami juga jalan-jalan ke tempat lain. Aku lupa daerah apa namanya, bahkan nama pantaipun aku gatau. Yang aku tau, "Jalan-jalan ke Anyer". Pantai Anyer kah? Selain pantai, kami juga ada pergi ke tempat lain, semacam cagar alam.. Gatau juga nama tempatnya apa.
Pokoknya tempat ibadah mempertemukan kami, belajar dan berkembang bersama. Saling mengenal juga.
REVISI :Beberapa minggu kemudian, kami nonton bioskop. Itupun pertama kalinya nonton bioskop sama Earth. Filmnya sejenis film Step Up. Aku bingung kenapa film itu baru ada dibioskop karena beberapa hari sebelumnya, aku sudah menonton film itu di rumah (sewa VCD).
Kami gak pernah pergi berdua, pasti sama teman-teman dari tempat ibadah kami.
(Baruh sadar pas udah dipublikasi kok gak ada cerita bagian ini, padahal kemaren udah di ketik).
Masih ingat tentang sekolah Earth? Dia pulang sekolah aja sore, ditambah tugasnya banyak. Hari sabtu dia libur, tidak dengan sekolahku. Tapi hari sabtupun dia kadang masih suka ke sekolah, ngerjain tugas kelompok atau hanya sekedar main sama teman-temannya. Senin-jumat kami habiskan di laptop via Skype, aplikasi video call itu. Dia kerjain tugas, aku juga. Eh, aku lebih banyak gabutnya sih daripada kerjanya wkwk suka deh liatin dia kalo lagi video call. Screenshoot kalo dia lagi jelek atau lagi aneh-aneh gayanya. Ngobrol, gossip, becandaan, bahkan berantem juga di Skype. Gak ada riwayat chat, ya gimana ada, kan kami video call. Paling chat untuk test sinyal doang. Suara juga gak terekam kan wkwk berjam-jam pula. Kadang Skype itu on sampe pagi, tapi kami sih tidur. Atau kadang, dia kerjain tugas sampe malem dan aku tidur duluan. Kalo aku gak minta untuk tetap nyala, dia akan mematikan video call setelah selesai ngerjain tugas-tugasnya. Begitupun sebaliknya. Skype itu….saksi hubungan kami.
Terus ketemuanya kapan? Udah pada ngeh dong. Sabtu minggu, di tempat ibadah. Dia yang jemput aku setiap kali mau pergi, pake motor bebek, supra ya? hitam merah, harusnya masih ada sampe sekarang tuh motor wkwk Dia juga punya wangi yang khas, aku suka. Soft banget!
Sepulang ibadah sabtu malem, kita suka nongkrong ditukang nasi goreng samping rumahnya. ITU NASI GORENG TERENAK PADA MASANYA! Gak berdua, yang malam itu datang ibadah biasanya ikut juga. Btw, tukang nasi goreng kan di samping rumahnya ya, tapi kalo aku pulang, aku dianter pulang dulu. Abis itu baru dia balik lagi buat pulang wkwkwk 
Hari minggunya, kami jadi pembina anak-anak sekolah minggu. Hmm, pembina di sini maksudnya ikut bantuin kakak-kakak disana, belajar menggantikan mereka nantinya, regenerasi. 
Kami dan teman-teman yang lain itu akrab banget. Setelah ibadah anak-anak selesai, kami tetap di tempat ibadah, kadang sampe sore. Main petak umpet, kotak pos, lompat tali, gossip, diskusi, apapun, yang penting sama-sama. Kalian tau kan semua permainan itu?
Aku menyukai masa itu. Sangat.
Sabtu-minggu adalah waktu yang paling aku tunggu. Menurutku, selain komunikasi, pertemuan juga penting. Selama apapun berkomunikasi di video call, tentu beda kalo bertemu langsung kan? Itulah sebabnya aku selalu menunggu sabtu dan minggu. Aku harap dia juga demikian.
Bersamanya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Tertawa lepas, panas-panasan sampe kucel, curhat apapun, bakhan aku masih ingat saat pertama kali aku bilang "Earth, aku mau pup :p". Dia bilang, dia menyukai sikap terbuka ku, apa adanya.
Oh iya! Aku memang satu tahun lebih tua, tapi Earth tidak pernah terima. Katanya,

"Kamu itu lebih tua 355 hari. Jadi kita tuh gak beda satu tahun, cuma 355 hari"

Ya gak salah sih. Tapi, tapi, tapi…… emang bisa begitu? wkwkwk 
Tahun ini, ulang tahunnya jatuh di hari kamis. Tepat pukul 00.00, aku telpon dia. 

"Happy birthday!" Kata ku, setengah sadar.
"Makasih ya"  katanya, setengah sadar juga.

Sama-sama tahan ngantuk, yang penting aku jadi orang pertama yang ucapin. Dan doanya aku kirim di whatsapp. "Hari ini sampe 10 hari kedepan, kita seumuran" balasnya.
Sabtunya, ditukang nasi goreng pastinya, wkwkwkwk aku kasih kue dan kado. Tapi aku lupa kado apa yang aku kasih ke dia. Dompet ya kalo gak salah, atau apa yaa? Lupa deh intinya.
Pas dia pulang, dia cuma cerita kalo mamanya bilang,

"Jangan lupa bilang makasih. Nanti pas dia ulang tahun, bales"

9 hari kemudian, "hari ini hari terakhir kita seumuran", kode kalo dia inget hari ulang tahunku. Besoknya, iya ulang tahunku hari minggu! Yey ketemu :D Dia juga menelponku tengah malam. Pas ketemu aku gak melihat kue atau kado saat itu. Hari minggu itu, hanya kami lewati bersama, ada teman-teman dari tempat ibadahku juga.
Aku tidak berharap, tapi pasti ada sedikit kesedihan hari itu. Sudahlah.
Tahun ini juga tahun baru pertamaku sama Earth. Sudah menjadi tradisi semua orang kalo tahun baru dirayakan dengan cara bakar-bakaran (BBQ) bersama orang-orang terdekat. Begitupun kami, melewati jam 00.00 bersama, 31 Desember 2011-1 Januari 2012.


bersambung . . .
Laff!
Sky.

Notes :
1. Kudedikasikan cerita yang satu ini untuk Banten. Let's recover together <3
2. Pas nulis ini, aku greget banget deh mau kasih liat foto-foto waktu ke Anyer dan waktu teateran bareng sebenernya. Ada videonya juga! Tapi kan gak bisa ya wkwk identitas :p
3. Sky terima kritik dan saran dikolom komentar ;) Pertanyaan juga boleh seputar Sky dan Earth.
Terima kasih telah membaca.