Lukanya nusuk. Sebenernya aku gak ngerti kenapa akhirnya begini. Beneran aku yang terlalu posesif dan menghambatnya atau dia yang bermain-main dengan perasaanku? Rasanya baru berkeliling kota Jakarta bersamanya, hari itu menyenangkan. Ku kira hari depan akan seperti itu, ditemani oleh setiap hadirnya.
Aku tidak menyesal dengan semua pengorbanan. Bukan cuma dia yang mengorbankan waktu, tenaga, emosi, teman, uang, dan lainnya. Aku juga. Dengannya, aku merasa cukup. Hanya saja, mengapa? Apa yang lebih dari perempuan itu? Dia bilang, hanya aku yang tau sayangnya untuk siapa. Masih untukku? Masihkah dia menangis untuk 2 perempuan saja? Ibunya dan aku.
Masihkah dia hanya ingin melindungi 3 perempuan saja? Ibunya, adik perempuannya, dan aku.
Tahun memang membuat semuanya terlihat dan terasa membosankan. Sama seperti remaja yang sangat ingin pergi dari rumah karena dilarang ini dan itu oleh orang tua. Itu keadaannya kan? Dia ingin pergi dariku?
Kalau semua laki-laki yang telah melewati tahun bersama wanitanya, ketika masalah kecil yang dianggap sepele lalu menjadi rumit karena tidak pernah dibicarakan, jika pergi atau mencari yang lain adalah sebuah solusi, angka perceraian di negeri ini pasti akan melonjak tajam. Atau setidaknya, tingkat patah hati akan bertambah.
Di sini aku terdiam, menahan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar