Kenapa Sky dan Earth?
Bukan karena aku merasa lebih tua, jenjang pendidikan lebih tinggi, atau apapun. Bukan juga karena aku merasa derajatku lebih tinggi. Beberapa bulan lalu kami pernah membicarakan masa depan. Dua anak cukup, katanya. Setelah pulang dari Museum Planetarium, kami mau punya anak dengan nama Sky, Sea, atau Earth, tentunya diikuti dengan nama belakangnya.
Waktu aku cari nama samaran, aku teringat hal ini.
Waktu aku cari nama samaran, aku teringat hal ini.
Kenapa Kotak Hitam Kita?
Waktu dia meninggalkanku, aku sampai pada titik lebih baik ditinggal mati daripada berakhir seperti ini. Ada satu puisi yang kubuat dan aku menyebutkan bahwa semua kenangan akan disimpan di kotak hitam. Semua warna dikanvas kami telah berubah.
Daripada marah di medsos atau memendam semua perasaan, aku memutuskan untuk menulis. Awalnya aku mau menamai blog ini 'Kotak Hitam Ku', namun tidak bisa terdaftar. Kemudian aku coba 'Kotak Hitam Aku', tapi juga tidak bisa. Dan jadilah 'Kotak Hitam Kita'.
Blog ini murni memang untuk meluapkan semua rasa dengan sedikit unsur 'peringatan' mengenai apa yang telah dia lakukan kepadaku. Jahat. Sungguh.
Oke, aku memutuskan untuk mengakhiri cerita ini. Ya, gantung ditengah. Cukup orang-orang terdekatku yang mengetahui keseluruhan cerita.
"Mereka tidak membencimu, Earth. Teman-temanku juga menyalahkanku dan sekaligus menyemangatiku untuk melanjutkan semuanya tanpamu".
Kenapa aku memutuskan untuk berhenti cerita? Ya, setelah kupikir kembali, aku rasa dia tidak layak untuk terlalu dikenang dan menjadi terkenal karena cerita ini. Dia bukan bagian penting dari diriku bahkan hidupku lagi. Intinya aku pernah meletakkan kepercayaanku 100% dan pada akhirnya aku dikhianati. Sungguh, psikologisku terganggu dan aku pasti akan pulih.
Entah mereka sudah berapa lama, perempuan itu bilang bahwa mereka memang sudah sering jalan. Bahkan kue untuk ulang tahunku aja (20 Nov 2018) mereka yang membelinya. Sesungguhnya, jika tau seperti itu, aku tidak sudi menerima dan tersenyum ketika meniup lilin bersamanya tengah malam itu. Iya, perempuan yang Earth bilang memang sudah menyukainya dari awal kuliah. Aku sadar, aku kalah akan satu hal. Jarak.
Tapi, dia jalan dengan perempuan yang aku tidak suka, sering kata perempuan itu. Bagaimana jika aku yang melakukannya? Bagaimana jika aku yang sering pergi bersama laki-laki yang tidak dia sukai? Ayolah, pondasi kami memang kepercayaan. Tapi jika hanya salah satu yang sangat percaya dan yang lainnya 'menggunakan' kepercayaan itu, bukankah pondasi itu tidak berhasil dibangun?
Entah mereka sudah berapa lama, perempuan itu bilang bahwa mereka memang sudah sering jalan. Bahkan kue untuk ulang tahunku aja (20 Nov 2018) mereka yang membelinya. Sesungguhnya, jika tau seperti itu, aku tidak sudi menerima dan tersenyum ketika meniup lilin bersamanya tengah malam itu. Iya, perempuan yang Earth bilang memang sudah menyukainya dari awal kuliah. Aku sadar, aku kalah akan satu hal. Jarak.
Tapi, dia jalan dengan perempuan yang aku tidak suka, sering kata perempuan itu. Bagaimana jika aku yang melakukannya? Bagaimana jika aku yang sering pergi bersama laki-laki yang tidak dia sukai? Ayolah, pondasi kami memang kepercayaan. Tapi jika hanya salah satu yang sangat percaya dan yang lainnya 'menggunakan' kepercayaan itu, bukankah pondasi itu tidak berhasil dibangun?
Aku sudah menyadari dari jauh hari bahwa hubungan kami memang tidak beres, sama-sama keras kepala, mempertahankan ego masing-masing, dan putus nyambung ratusan kali. Biasanya, semua perdebatan selesai walau dengan pertengkaran. Tapi tidak dengan malam itu, malam dimana dia lebih memilih perempuan itu.
Mungkin semua orang menyalahkan sikap posesif ku. Iya aku posesif. Aku tidak suka jika dia terlalu lama pergi atau dekat dengan banyak perempuan. Tapi diapun bersikap demikian. Bahkan dia cemburu dengan wali kelasku atau bapak gr*bc*r yang menggantarku pulang. Sikap posesif itu bukan hanya milikku, miliknya juga.
Hubungan kami tidak sehat. Bukannya diusahakan untuk sembuh, dia malah menyuntik mati hubungan ini.
Mungkin semua orang menyalahkan sikap posesif ku. Iya aku posesif. Aku tidak suka jika dia terlalu lama pergi atau dekat dengan banyak perempuan. Tapi diapun bersikap demikian. Bahkan dia cemburu dengan wali kelasku atau bapak gr*bc*r yang menggantarku pulang. Sikap posesif itu bukan hanya milikku, miliknya juga.
Hubungan kami tidak sehat. Bukannya diusahakan untuk sembuh, dia malah menyuntik mati hubungan ini.
Jika dia membuangku seperti sampah dan melupakan kenangan selama tujuh tahun bersama, akan aku pastikan bahwa dia telah membuang berlian.
Tidak akan ada kata 'kembali' lagi, aku jamin.
Di hubungan kami, walaupun sekarang aku sangat tersakiti, aku sadar bahwa aku juga memiliki porsi kesalahanku. Akupun telah belajar dan aku tidak akan mengulangnya jika suatu saat aku bisa meletakkan kepercayaan lagi kepada seorang pria yang tulus.
Untukmu, Earth.
Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan berakhir seperti ini. Aku kira kita memang akan menikah seperti bayanganmu. Aku sudah berencana menunggumu menyelesaikan kuliahmu empat tahun lagi dan merintis karir bersama. Ingat impianku dikertas itu untuk memiliki apotek bersamamu? Akupun sudah membuat rencana agar kita memiliki financial stability, untuk masa tua.
Ada beberapa kalimatmu yang masih terngiang di kepalaku.
Ada beberapa kalimatmu yang masih terngiang di kepalaku.
"Neng, I love you hehehehe *sambil gaya nyanyi terus joget-joget*"
"Kenapa ya aku suka cewe yang badannya kecil? Pas buat dipeluk"
"Suka cewe putih terus kecil *sambil peluk*
"You are mine"
"Jangan deket-deket, dia mau apa yang aku punya"
"Suka cewe putih terus kecil *sambil peluk*
"You are mine"
"Jangan deket-deket, dia mau apa yang aku punya"
"Jangan tinggalin aku ya"
"Aku gak punya siapa-siapa lagi kalau gak sama kamu"
"Pokoknya aku mau sama kamu. Kalau gak sama kamu, aku gak nikah"
"Aku mau jadi Bhante aja kalau nanti akhirnya gak sama kamu"
"Percaya sama aku. Aku cuma sama kamu"
"Tolong percaya. Di sini juga gak ada yang mau sama aku. Cuma kamu yang mau"
"Suatu saat kita akan balik lagi ke tempat ini" - GWK
"Jangan, nanti kamu gendut"
"Hihhhh, mataaaaaah"
"Jangan, nanti kamu gendut"
"Hihhhh, mataaaaaah"
"Kamu yakin mau nyerah setelah apa yang udah kita lewatin selama ini?"
"Kalau gak suka tuh ngomong! Bukan update instastory! Biar apa men"
"mumumu"
Sejak saat aku tahu semuanya, aku percaya satu kata. Bullshit. Jika kau membenci caraku, pergilah. Buatlah jeda. Capailah semua mimpimu. Terdengar jauh lebih elegant dan terhormat, kan? Bukan malah dengan cara pelarian ke perempuan lain.
Kau tahu? Aku, salah mengenal orang untuk waktu yang sangat sangat lama.
Sudahlah. Nothing ever happens if you don't make it happen.
Aku hanya ingin minta maaf dan berterima kasih.
Maaf telah membatasimu berteman. Ini karena aku mempercayai ceritamu dimana kamu membenci teman-temanmu karena kamu merasa dimanfaatkan oleh mereka semua, entah untuk tugas atau kepentingan pribadi teman-temanmu. Aku juga percaya ceritamu tentang perempuann lain yang menyukaimu.
Maaf telah membatasimu berorganisasi. Aku mempercayai ceritamu dimana setiap kali kamu akan ujian (atau kuis), kamu rapat hingga malam dan kamu mengeluh kalau waktumu untuk belajar kurang. Cerita tentang nilai-nilaimu dan ceritamu bahwa kamu juga lelah mengikuti organisasi karena menurutmu, orang-orang yang terlibat bukanlah orang-orang berguna. Kamu merasa hanya kamu yang diandalkan, bukan?
Maaf telah membatasimu 'minum' dengan teman-temanmu, melarangmu menghabiskan uang di warnet, membatasi pengeluaranmu, dan memintamu menabung bahkan berinvestasi. Lagi lagi aku percaya ceritamu. Cerita yang kau sampaikan bahwa keluargamu sedang berada pada titik ekonomi terendah dan sedang berada dalam kondisi sulitnya keuangan. Setelah kupikir, aku rasa uang bukanlah barang langka untukmu. Kesulitan keluargamu juga bukan kesulitanmu. Kamu memilih duniamu yang sekarang dan aku malah berusaha peduli atas dunia yang kau lupakan.
Maaf aku marah ketika kamu ngomong kasar secara berlebihan, bahkan kepadaku. Aku yang sudah ada dilingkungan kerja lebih dulu menginginkanmu untuk tidak terbiasa bersikap seperti itu.
Maaf aku marah ketika kamu ngomong kasar secara berlebihan, bahkan kepadaku. Aku yang sudah ada dilingkungan kerja lebih dulu menginginkanmu untuk tidak terbiasa bersikap seperti itu.
Maaf juga telah cerewet mengenai pola makanmu. Sakit itu mahal walaupun kamu masih muda. Ingat, di usia seperti ini saja kolesterol kamu sangat tinggi. Itu juga alasanku selalu masak ketika kamu datang ke rumah.
Maaf jika aku selalu meminta kabar disetiap menitnya. Aku pikir, jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu, aku dan keluargamu tahu harus menghubungi siapa atau mencari kemana. Kau sendiri tahu kan kalau aku dan keluargamu itu terhalang jarak dengan dirimu?
Maaf jika aku selalu meminta kabar disetiap menitnya. Aku pikir, jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu, aku dan keluargamu tahu harus menghubungi siapa atau mencari kemana. Kau sendiri tahu kan kalau aku dan keluargamu itu terhalang jarak dengan dirimu?
Maaf karena aku selalu ingin denganmu. Akupun tidak meminta adanya jarak diantara kita, sungguh.
Maaf aku selalu memintamu pulang ketika libur tiba. Kamu harus menemui keluargamu apapun kondisinya. Bantu papamu. Temui aku dan juga keluargaku, mereka butuh pembuktianmu. Kami butuh kamu.
Maaf aku selalu memintamu pulang ketika libur tiba. Kamu harus menemui keluargamu apapun kondisinya. Bantu papamu. Temui aku dan juga keluargaku, mereka butuh pembuktianmu. Kami butuh kamu.
Maaf aku menutupi satu hal. Sakit hati orang tua ku masih ada hingga sekarang. Dari awal, orang tuaku telah meminta untuk berhenti tapi aku malah bertahan dan memperjuangkanmu.
Maaf pula aku tidak pernah memuji dan hanya memendam rasa bangga dan kagumku. Dulu, aku memujamu.
Maaf pula aku tidak pernah memuji dan hanya memendam rasa bangga dan kagumku. Dulu, aku memujamu.
Terima kasih telah mengajarkanku untuk tidak meletakkan seluruh kepercayaan kepada seseorang.
Terima kasih pula karena di akhir cerita, aku telah diberikan ruang kehangatan oleh keluargamu.
Terima kasih diakhir cerita kamu mengajarkanku untuk melepaskan kemelekatan. Anicca.
Terima kasih telah melukisku.
Terima kasih telah melukisku.
Terima kasih telah menjadi bagian dari ceritaku.
Satu lagi. Terima kasih untuk cerita akhir yang membuatku hampir gila dan kehilangan banyak berat badan. Aku senang, berat badan yang aku inginkan (39-40kg).
Aku mendoakanmu dan keluargamu.
Aku mendoakanmu dan keluargamu.
Untukmu yang sekarang menjadi penggantiku.
Jika kamu rasa caraku menghadapi dan merespon semua ceritanya salah, buktikan pada semesta bahwa kalian juga akan melewati tahun dan bisa menyatukan segala perdebatan. Buktikan pula kamu akan melakukan seluruh nasihat yang kau tujukan padaku saat berkirim pesan di DM Instagram.
Makasih untuk keluargaku, teman-teman SMA, teman-teman di tempat ibadah, Cantique, teman-teman kampus, dan Ethan.
Makasih juga untuk teman-teman yang setia menunggu cerita ini.
Aku iklas, aku telah cukup menyakiti diriku sendiri. I will treat myself like someone I love.
I deserve someone much better, for sure.
I deserve someone much better, for sure.
Terima kasih pulau Jawa dan Bali atas semua kenangan.
Laff! Sky.
"Losing you was hard, but keeping you was harder.
BalasHapusLosing you was a lesson but not a loss.
Losing you was my favorite win."
SEMANGAT SKY!��
Muah!
Hapus